Tinta Ungu

Majalah Online Psikologi UIN Bandung

Apakah Anda Dibohongi Oleh Media Massa?

Oleh: Arbanik*

Gambar

Siapa yang tak kenal Adolf Hitler? Penguasa Jerman yang hampir menaklukkan seluruh daratan Eropa itu namanya abadi dalam sejarah peradaban dunia. Memang ia tidak dikenal sebagai seorang pahlawan atau tokoh yang berjasa, justru sebaliknya, Hitler dikenal karena kekejaman dan kediktatorannya dalam memerintah. Tapi terlepas dari itu, satu hal yang patut diakui adalah, Hitler telah berhasil menancapkan pengaruhnya yang mendalam bagi para pendukungnya. Bahkan hingga sekarang.

Ya, propaganda Hitler dengan kitab suci Main Kampf nya tak pernah mati. Ia akan selalu tumbuh sebagaimana generasi muda mengenal dan mendalami suatu sejarah. Mereka yang melihat sisi lain dari kehidupan Hitler, yang awalnya benci akan berubah menjadi kagum. Dan tahukah Anda? Bahwa Hitler ternyata merupakan produk/ciptaan para ahli propaganda yang telah mengemas seorang Hitler menjadi sosok yang harus disegani, dihormati, bahkan ditakuti oleh para pengikutnya.

Adalah Paul Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi. Orang yang berada di balik hingar bingar kemegahan Partai Nazi dengan Hitler sebagai tokoh centralnya. Sebagai seorang propagandis, Goebbels sangat disegani dan begitu disanjung oleh para ilmuwan. Pasalnya ia telah berhasil menerapkan teknik propaganda modern yang saat ini banyak ditiru oleh para penguasa dan propagandis lainnya di muka bumi. Goebbels adalah pelopor dan pengembang taktik propaganda modern yang diberi nama Argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik Big Lie (kebohongan besar).

Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Sederhana namun mematikan. Ia juga mempelopori penggunaan siaran radio sebagai media propaganda massal. Dengan menggunakan radio gelombang pendek yang mampu menjangkau berbagai belahan bumi, ia menyebarluaskan doktrin Nazi. Bahkan pada tanggal 18 Februari 1943, ia mengumandangkan Perang Propaganda Total demi menaikkan moral balatentara Jerman di medan perang.

Media

Jauh sebelum para ilmuwan dan para propagandis lainnya menyadari pentingnya pengaruh suatu media massa, Goebbels telah melancarkan aksi propagandanya dengan mengoptimalkan basis media massa yang berkembang saat itu. Melalui selebaran dan radio pemancar, Goebbels mempengaruhi opini publik mengenai begitu tingginya Ras Arya, bahwa Nazi dan Hitler merupakan alat untuk meraih kejayaan di dunia sehingga harus didukung penuh tanpa pengecualian. Media memang sangat ampuh untuk mempengaruhi pola pikir seseorang, mengubah penilaian dan pendapat akan suatu hal.

Kesadaran aktor politik untuk memanfaatkan media sebagai corong propaganda untuk meraih simpati dan dukungan publik dewasa ini pun kian gencar. Berbondong-bondong para calon pemimpin daerah mempromosikan dirinya lewat media, baik cetak maupun elektronik. Para aktor politik itu sadar, bahwa dalam menentukan suatu keputusan politik, masyarakat akan selalu membutuhkan refrensi.

Berdasarkan kajian psikologi, norma dan pengaruh interpersonal memberikan pengaruh terhadap sikap seseorang . Hal ini jugalah yang kemudian dimanfaatkan oleh media ketika melakukan kegiatan propaganda. Melalui berita-berita yang disiarkan, media secara tidak langsung telah memberikan referensi kepada masyarakat untuk mempengaruhi keputusan politiknya. Semakin sering berita tersebut diberikan, maka akan semakin besar pengaruh yang akan didapatkan oleh masyarakat.

Propaganda media pun sering dijadikan alat pencitraan oleh para aktor polik, masyarakat pengkonsumsi media akan disajikan tampilan dan cerita-cerita yang menarik seputar figur atau partai, dengan ditampilkan terus menerus maka tanpa sadar figur atau partai itu akan tertanam dalam benak masyarakat. Media massa menjadi sangat efektif untuk melakukan propaganda karena media massa memiliki kemampuan mempengaruhi masyarakat yang tinggi. Media dapat digunakan untuk self marketing melalui berita dan informasi yang disiarkan, misalnya pada waktu kampanye politik.

Begitu perbangaruhnya media dalam membangun opini publik maka tak heran, para tokoh politik di Indonesia juga ikut menggunakan media sebagai alat propagandanya. Seolah mengikuti jejak Hitler, para tokoh politik negeri ini menggunakan kakitangannya untuk mengusai media. Kita bisa melihat, bagaimana saat ini media televisi swasta telah dikuasai para pelaku politik untuk memperlancar kepentingan dan ambisi politiknya.*

*Nama Samaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 30, 2013 by in Uncategorized.

Follow me on Twitter

Tinta Ungu Page

Statistik Blog

  • 60,209 hits

Twitter

%d bloggers like this: