Tinta Ungu

Majalah Online Psikologi UIN Bandung

ISLAM IS THE WAY OF LIFE

Oleh: Lubi Nurzaman

Gambar

     Islam is way of my life, Islam adalah jalan hidupku, suatu keyakinan yang sangat perlu dimiliki oleh setiap ummat Islam karena dengan menjadikan Islam sebagai jalan hidup maka hidup dan kehidupan yang kita jalani akan selalu mendapatkan ridha Allah SWT.

     Pada zaman ini banyak ummat Islam yang tidak menjadikan Islam sebagai panduan hidup, hanya sebagai simbol belaka. Sudah sering kita dengar para pelaku kejahatan ternyata beragama Islam dan dari tampilan luarpun mereka sudah terlihat bahwa mereka adalah orang muslim. Namanya identik dengan Islam, memakai bahasa Arab seperti di awali dengan kata Muhammad dsb. Walaupun menurut nabi nama adalah doa akan tetapi itu tidak menjadi jaminan bahwa perilaku orang tersebut sesuai dengan makna nama yang ia sandang. Kemudian moralitas relatif yang di anut kaum postmodernis mulai merasuki jiwa ummat Islam padahal Islam sudah sangat jelas membuat aturan moral yang harus di taati pemeluknya sehingga banyak intelektualis beragama Islam membuat aturan moral baru dengan mengatakan bahwa itu tidak bertentangan dengan Islam.

     Selain permasalahan kronis di atas masih ada jutaan masalah lain yang dihadapi Islam salah satunya rasa ta’asub golongan dan paham yang mengakibatkan perpecahan di internal ummat Islam sendiri. Saling mengkafirkan padahal yang dikafirkan itu masih menjalankan ajaran Islam yang fundamental seperti rukun Islam, rukun Iman dsb. Begitu mudahnya orang men-judge suatu golongan itu sesat padahal tahu secara keseluruhan saja belum. Menurut salah satu ulama Al-Azhar, syeh Ahmad, selama ajaran yang dipakai suatu golongan tidak bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah kita haram mengatakan sesat atau kafir.

Di media masa sudah sering kita lihat tentang berbagai serangan yang dilakukan berbagai kelompok yang mengatasnamakan Jihad terutama di daerah Timur Tengah seperti Pakistan, Irak dan Afghanistan yang mayoritas korban serangan adalah ummat Islam sendiri, masih satu agama dan satu keyakinan. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang melakukan serangan itu padahal mereka mengaku adalah orang yang mengamal ajaran Islam sesuai tuntunan Rasul. Apakah Rasul pernah mengajarkan menyerang saudara seiman?. Kasus terbaru adalah pembunuhan 7 guru wanita di Pakistan, mereka beragama Islam, mereka mendidik generasi muda muslim di sekolah-sekolah. Apakah label radikal dan ekstrimis dari Amerika akan menjadi sesuatu yang nyata?

     Salah satu solusi untuk menghilangkan perpecahan antar golongan ini adalah perlu di adakannya komunikasi lintas golongan, lintas madzhab, dan lintas pemahaman sehingga di temukan titik temu yang akan menghilangkan su’udzan dan permusuhan.

     Kemudian masalah yang lainnya adalah percampuran budaya setempat dengan ajaran Islam karena pemeluk Islam tersebar di seluruh dunia yang memilki budaya masing-masing sehingga muncullah istilah Islam tradisionalis, Islam kejawen dsb. Bukanya budaya setempat yang di sesuaikan dengan Islam akan tetapi malah Islam yang di sesuaikan dengan budaya setempat sehingga banyak budaya yang sebenarnya bertentangan dengan Islam malah di anggap ajaran Islam karena menganggap bahwa Islam mengakomodir setiap budaya seperti budaya atau tradisi ziarah dengan membawa sesaji yang jelas-jelas itu itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kaum liberalis mengatakan bahwa yang mereduksi budaya bangsa salah satu yang paling dominan adalah agama, memang benar seperti itu. Sehingga sekarang muncul kampanye untuk mempertahankan budaya dengan mengesampingkan ajaran agama.

Secara sederhana kita dapat melihat bagaimana Islam merubah suatu kebudayaan yang secara rasiopun adalah budaya yang dirubah memang terbelakang. Ketika para misionaris datang ke suatu suku primitif maka para misionaris itu tidak akan merubah budaya mereka seperti budaya telanjang dsb. Beda dengan Islam, Islam mengajarkan untuk menutup aurat, Islam mengajarkan mana makanan halal dan haram. Dalam ilmu sosial dikatakan bahwa budaya itu selalu berubah sehingga tidak bisa di tetapkan suatu aturan yang prinsipil akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk ajaran Islam yang fundamental seperti tentang kewajiban shalat, zakat, dll. Itulah mengapa Islam tidak bisa disamakan dengan budaya.

     Zaman sekarang masih banyak umat Islam yang tidak bisa membedakan mana ajaran agama dan mana budaya sehingga menganggap sesuatu yang sebenarnya itu adalah sebuah budaya di anggap bagian dari ajaran agama seperti pemahaman tentang segala sesuatu berbau Arab adalah Islam padahal tidak setiap Arab adalah Islam seperti pemakaian bahasa Arab 100% ketika khutbah Jumat padahal itu bukan di daerah yang orang-orangnya mampu berbahasa Arab sehingga muncul lelucon Abu Jahalpun berbicara memakai bahasa arab tapikan dia bukan pemeluk Islam.

     Selain masalah yang tadi sudah dipaparkan di atas masih banyak masalah lain yang di hadapi ummat Islam oleh karena itu kita sebagai bagian dari Islam harus dan wajib kembali menjadikan ajaran Islam sebagai jalan hidup, sebagai panduan hidup. Nabi pernah mengatakan dalam salah satu haditsnya apabila engkau berselisih tentang sesuatu dan tidak menemukan pemecahannya maka kembalillah ke Al-Quran dan As-Sunnah.

“Ummat Islam bersatu bukanlah cita-cita yang mustahil untuk di wujudkan.”

*Tulisan ini juga di publikasikan di rajin-cerdas.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 2, 2013 by in Uncategorized.

Follow me on Twitter

Tinta Ungu Page

Statistik Blog

  • 60,209 hits

Twitter

%d bloggers like this: