Tinta Ungu

Majalah Online Psikologi UIN Bandung

Ini kacamata saya, kalo kamu??

Sebetulnya ga etis juga angkat cerita ini buat tulisan. Pasti ada yang kesinggung. But it seems we all have our own saying when it comes to LOVE, RELATIONSHIP and GOD.  Ini tentang orang jatuh cinta. Biasa? Memang. Tapi buat saya, kali ini ga biasa.

Marilah kita sebut si tokoh utama disini adalah si A. Di bulan Juli kemaren, si A tiba-tiba bilang suka sama saya. FYI, A ini temennya pacar sekaligus kaka kelas saya di SMA. Awalnya saya egois dong, bilang sama dia jangan suka sama saya. Sampe akhirnya dia bilang kalo rasa yang dia punya kan lepas dari kontrol dirinya. Yang ngasih kan Tuhan.

Saya bakal berbagi dengan jujur tentang pengalaman pada posisi sebagai si gadis yang dicintai lelaki lain. Ketika si A berbicara tentang Tuhan, saya berubah jadi speechless.  Saya ga pernah mikir kesana. Yang saya tau, orang ketiga selalu salah dalam mencintai. Maka dari itu, saya ga buru-buru menghakimi. Saya sharing sama pacar dan orang-orang dengan mengaburkan nama si tokoh utama. Saya baca buku-buku yang saya yakin bakal nambah pengetahuan tentang kisah serupa.

Dan pada satu titik, saya nemu tulisan orang korea yang memposisikan dirinya sebagai orang ketiga yang Cuma mencintai, bukan ingin merebut pasangan. Persis kaya yang saya alamin sekarang.

Disana dia bilang, “kalo aja perasaan saya kaya mobil yang bisa disetir, saya bakal milih buat banting setir. Bergerak mundur bahkan berbalik. Ga akan mau saya terus jalan menuju kamu yang sudah punya pasangan. Karena itu menyakitkan.”

Saya jadi ngerti gimana perasaan si A. Tapi ketika saya berbagi sama orang lain, mereka punya pikiran berbeda, persepsi berbeda.

Persepsi tentang Sinta Jojo Keong racun misalnya. Dari kacamata saya, jelas saya keberatan sama mereka yang di “artis” kan, yang jadi bintang iklan Sosis So Nice padahal ga kerja keras. Tapi kata temen saya, “urang mah lebih baik makan sosis So Nice bareng mereka daripada sama Dedi Mizwar”.

Yang coba saya katakan disini adalah, sebenernya setiap orang hadir dengan kacamatanya sendiri. Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata yang kita kenakan. Dan kita semua punya lensa berbeda dalam kacamata yang kita pakai..

Deasty Larasati *Dheamoyz*

deemoyz.blogspot.com

 

loves_amoyz@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 9, 2010 by in Sastra.

Follow me on Twitter

Tinta Ungu Page

Statistik Blog

  • 60,209 hits

Twitter

%d bloggers like this: