Tinta Ungu

Majalah Online Psikologi UIN Bandung

Senjata Bertuah

Kerongkonganku kering. Keringatku saling berebutan keluar dari pori-pori yang tersebar di sekujur tubuhku. Hatiku gamang. Tekadku mulai goyah. Apa aku harus benar-benar melakukannya? Tanyaku untuk kesekian kalinya.

Tarikan nafasku semakin dalam. Ternyata ini tak semudah yang aku pikirkan.

Tanganku terangkat, memegang senapan kecil yang sedari tadi kugenggam erat-erat dan kini berada pelipis kananku.

Dingin. Semuanya terasa dingin. Pelipis kananku, tanganku, kakiku, seluruh tubuhku. Entah kenapa tanganku kini bergetar hebat. Lalu terkulai lemas tak berdaya.

Aku belum siap.

Kupejamkan mataku berharap ada kekuatan yang muncul setelah aku membuka mataku nanti.

Sayang, tak ada perubahan apapun. Keraguanku semakin memburu.

Kutatap pistol kecil yang kini tergeletak beberapa sentimeter dari tanganku.

Senjata itu, mungkin senjata bertuah. Tak jelas apa tuah yang ia bawa, yang jelas ia sangat berperan di setiap kematian keluargaku.

Ya, semua keluargaku mati terbunuh oleh pistol kecil itu. Ironisnya, aku satu-satunya orang yang melihat setiap kematian mereka dan masih tetap hidup.

Kematian ibu dan ayahku. Kematian kakakku. Dan mungkin kematianku, nanti.

Senjata itu merusak semua mimpi indahku. Mimpi indah yang selalu ingin kudapatkan. Mimpi indah yang setiap hari ingin ku impikan.

Berkali-kali Alice, kakakku, mengubur dan membuangnya, tapi ia kembali lagi tergeletak manis di sudut meja kerja mendiang ayahku dan selalu kembali dengan keadaan bersih seperti baru saja di bersihkan oleh seseorang sebelumnya.

Ketakutan Alice membuatnya gila. Ia berubah. Ia bukan lagi kakakku yang dulu. Selalu meracau tak jelas. Bahkan ia lupa padaku. Ketentraman dalam rumahku kini tak bersisa tergantikan jeritan dan amukan Alice.

Sampai akhirnya seseorang datang dan menarik pelatuk senjata pembawa sial itu.

Alice pergi untuk selamanya.

Tak jauh berbeda dengan kedua orangtuaku yang dihabisi oleh orang yang sama. Tepat setelah pertengkaran hebat yang terjadi antara mereka.

Ketakutanku menguasai singgahsana kesadaran yang saat ini sedang ditinggal penguasanya. Ketakutan pada sosok itu. Sosok yang membunuh semua orang-orang yang aku sayangi. Membunuh semua orang yang aku kasihi. Takut pada sosok yang menghancurkan kehidupanku.

Rasanya aku sangat mengenal sosok itu. tapi aku tak pernah tahu siapa dirinya.

Pertanyaanku terjawab lima jam sebelum aku memutuskan mengakhiri hidupku tadi.

Jawaban itu kudapatkan saat aku melihat bayangan seorang wanita muda yang memakai baju tidur biru seperti yang aku punya di depan sebuah cermin yang memantulkan bayangannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Aku bertanya alasannya mengakhiri hidup orang-orang terdekatku.

Jawabannya menenangkan hatiku.

“Mereka akan lebih bahagia jika mereka mati.”

“Darimana kau dapat senjata bertuah itu? Benarkah senjata itu bertuah seperti yang dikatakan Alice padaku?” tanyaku

Ia tertawa, entah menertawakan apa.

“Tidak, sama sekali tidak. Kau yang membuatnya bertuah. Kau yang melakukannya semuanya bukan? Berarti kau lah yang bertuah. Kau yang membunuh mereka semua.”

“Aku? Apa maksudmu aku bertuah dan melakukan semuanya? Aku bukan pembunuh! Kau yang membunuh mereka semua! Kau yang melakukannya!” teriakku.

“Oh ya? Kau lupa saat kau dengan mudahnya menarik pelatuk dan menghilangkan nyawa ayahmu sendiri saat ia memutuskan untuk mengusirmu dari rumah ini karena sikap dan kebiasaan mabuk bodohmu itu?” ia berhenti sejenak

“Kau lupa telah membunuh ibumu sendiri karena ia terus menerus memukulmu dan menyebutmu ‘Si Pembunuh’ setelah kematian ayahmu? Kau lupa saat Alice berusaha menyadarkanmu dan membantumu bangkit kembali dari keterpurukan dan rasa bersalah yang menyelimutimu, kau dengan ringannya menarik pelatuk pistol kecil sialan itu? Kau lupa, hah? Lupa?” teriaknya.

Mataku menatapnya nanar. Aku benar-benar tak percaya. Ternyata akulah pelaku semua pembunuhan yang terjadi di rumah ini.

“Tidak! Bukan aku! Bukan aku pelakunya! Kau pelakunya! Kau!” tudingku.

Tapi ia terus berbicara dan terus menyalahkanku meskipun aku terus menyanggah tuduhannya padaku. Aku mengambil pistol kecil itu dari laci meja belajarku.

Ku arahkan senjata itu padanya. Kutarik pelatuknyaperkali-kali. Berharap ia tak lagi berbicara yang tidak-tidak padaku.

Tapi usahaku tak berbuahkan hasil. Suaranya terus menerus terngiang di telingaku. Menghantuiku di setiap aku menarik dan menghembuskan nafas. Mengejarku disetiap degupan jantungku.

Aku tak berdaya melawannya. Aku kalah. Lalu aku bertanya padanya tentang apa yang harus aku lakukan.

“Jemput mereka dengan kematianmu. Pakai senjata itu! Maka, orang-orang akan mengira bahwa senjata itu benar-benar bertuah.”

Aku tak punya pilihan. Aku benar-benar takut selalu diikuti olehnya. Oleh sosok yang selalu menyalahkanku atas semua pembunuhan yang terjadi di rumah ini. Sosok yang suaranya selalu aku dengar setiap detiknya. Sosok yang sangat mirip denganku.

Jalan keluar satu-satumya hanyalah mati dengan senjata kecil yang kini telah kugenggam kembali.

Tanganku yang tadi terkulai kini terangkat pasti.

Aku harus melakukannya. Aku menghitung perlahan.

Satu, dua, tiga.

Ku pejamkan mataku dan menarik pelatuk itu cepat sebelum keputusanku berganti kembali.

Kejadian demi kejadian berputar cepat.

Ayahku yang mengarahkan telunjuknya padaku sambil berkata, “Pergi kau dari rumah ini! Kau bukan anakku lagi! Pergi saja ke tempat kau menghabiskan uangmu dengan botol-botol penghilang kesadaran biadab itu!”

Bayangan ibuku yang selalu berteriak dan menyebutku “Si Pembunuh” terkulai lemas tak berdaya dengan darah yang berceceran dari kepalanya.

Bayangan Alice mengubur pistol kecil itu di halaman belakang rumah.

Bayangan aku menggali dan mengambil pistol kecil itu, membersihkannya dari sisa tanah yang ada kemudian menaruhnya di tepian meja kerja ayahku.

Dan terakhir bayangan Alice yang terlihat terkejut karena pistol kecil itu sudah teracung tepat di antara kedua matanya.

Dor!

Senjata itu memang tak bertuah. Tapi aku yang membuatnya bertuah. Aku lah pencipta mitos aneh pada benda kecil mematikan itu. Aku memang pembunuh yang pantas dibunuh oleh alat pembunuhku sendiri.

>>

05.30, 25 September 2010,

Di depan Sekretariat SMF Psikologi

Qeeya Aulia

qeeyaaulia.blogspot.com

riza_qiray@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2010 by in Sastra.

Follow me on Twitter

Tinta Ungu Page

Statistik Blog

  • 60,209 hits

Twitter

%d bloggers like this: